Kisah ini..
Mungkin jarang kau dengar.
Tetapi,
Ini sungguhlah terjadi...
Di dataran Eropa, hiduplah seorang lelaki tua dengan anak
lelaki semata wayangnya. Ia adalah seorang kolektor lukisan-lukisan terkenal.
Lukisan Van Gogh? Lukisan Leonardo Da Vinci? Berada dalam genggamannya. Ia
begitu menyayangi lukisan-lukisan itu, tetapi tidak lebih sayang daripada
kepada anaknya sendiri. Sesosok darah dagingnya yang begitu berarti baginya,
dan tidak dapat diganti dengan apapun.
Tapi.. suatu hari,
anak lelakinya mendapat panggilan dari negara untuk ikut andil dalam perang membela bangsanya. Dengan sedih, ia terpaksa melepaskan anak semata wayangnya. Hari demi hari, bulan demi bulan, semakin berlalu... tanpa sepatah berita tentang anaknya. Tak pernah seharipun ia melalui hari tanpa memikirkan anaknya. “Bagaimana anakku? Apakah dia baik-baik saja?” secuil pertanyaan itu sering memenuhi kepalanya, tanpa ia bisa berbuat apa-apa.
anak lelakinya mendapat panggilan dari negara untuk ikut andil dalam perang membela bangsanya. Dengan sedih, ia terpaksa melepaskan anak semata wayangnya. Hari demi hari, bulan demi bulan, semakin berlalu... tanpa sepatah berita tentang anaknya. Tak pernah seharipun ia melalui hari tanpa memikirkan anaknya. “Bagaimana anakku? Apakah dia baik-baik saja?” secuil pertanyaan itu sering memenuhi kepalanya, tanpa ia bisa berbuat apa-apa.
Tiba-tiba..
Seorang prajurit yang merupakan kawan putranya , membawa
kabar yang sungguh memilukan.. Putranya telah tewas.
“Tetapi...”, sahut prajurit itu, “Putramu adalah pahlawan
dalam perang”. Bagaimana bisa? Ya, putranya kembali ke medan perang dan
menggotong kawan-kawannya yang terluka. Seharusnya putranya sudah bisa selamat,
namun ia lebih memilih untuk mengorbankan nyawa demi keselamatan
kawan-kawannya. Apa mau dikata, sebuah peluru menjurus masuk ke dalam tubuhnya,
dan seketika itu juga tewaslah putranya ketika hendak mengangkut korban
terakhir.
Bapak itu begitu sedih. Pilu.. sakit.. terlalu kejam
rasanya, kehilangan anak semata wayangnya. Belum selesai menangis, seorang
prajurit kembali menghadap bapaktua itu. “Pak.. saya adalah salah satu prajurit
yang diselamatkan oleh anak bapak. Saya adalah seorang pelukis. Setidaknya,
saya harap lukisan putra bapak yang saya lukis ini bisa membalas budi anak
bapak. Ia adalah pahlawan.”
Bapak itu memandang begitu dalam lukisan itu, dan merasakan
setidaknya anaknya hadir melalui lukisan itu. “Terima kasih.. telah memberi
suatu tanda akan kehadirannya, meski hanya sedikit, tetapi ini cukup.” Prajurit-prajurit
itu pun membantu bapak itu untuk memasang lukisan “The Son” tersebut. “Letakkan
di ruang lukisan itu.. hanya saja jangan terlalu rendah atau tinggi supaya
setiap hari aku dapat memandang anakku.” Dan lukisan “The Son” itu pun
terpampang nyata di tengah-tengah ruangan, menjadi pusat dari semua lukisan
yang langka dan mahal.
Bertahun-tahun kemudian bapak ini meninggal. Sebuah surat
wasiat telah ditulis sendiri oleh bapak itu sebelum akhir hayatnya. Setelah
pengacaranya membacanya, segera diadakan sebuah pelelangan lukisan-lukisan
milik bapak tua itu. Lukisan-lukisan yang menjadi incaran setiap kolektor
lukisan langka. Harganya pun tidak kalah ajaibnya.
Namun ada yang aneh.
Lelang kali ini dimulai dengan penjualan lukisan “The Son”.
“Huu.. lukisan apa itu?? Ayo cepat keluarkan lukisan-lukisan mahal yang kami
nantikan!” “Buang saja!” “Ayo ganti!!” “Jangan buang waktu kami! Ayo cepat
lanjutkan pelelangannya!” begitu ricuhnya para tamu yang hadir, karena kecewa
akan lukisan pembuka lelang tersebut.
Namun tetap sang
wasit lelang membuka pelelangan dengan menjual lukisan “The Son”. Tanpa
terjualnya lukisan ini, pelelangan tak mungkin berlanjut. Akhirnya, sepasang
suami istri membeli lukisan tersebut. Mungkin memang harganya tidak semahal
lukisan-lukisan langka lainnya, namun yang pasti tindakan mereka telah
mengundang banyak gelak lega dan bahagia. “Terima kasih telah membeli lukisan
tidak berguna itu!” sahut salah seorang tamu.
“Baiklah dengan dijualnya lukisan “The Son”, maka pelelangan
ini telah berakhir!” Begitu ricuhnya suasana di gedung pelelangan. “Bagaimana
mungkin?? Kami menunggu lukisan-lukisan mahal milik bapak tua itu! Ayo cepat
keluarkan!” Pengacara bapak itu pun ambil alih. “Di surat wasit ini tertulis,
kepada siapapun yang telah memiliki lukisan putraku, ia memiliki semua koleksi
lukisan milikku.”
Sepatah kalimat, yang cukup mencengangkan banyak tamu. Mereka
tak sangka, sebuah lukisan yang dipandang hina oleh mereka , justru membawa
mereka ke mimpi dan impian mereka.
“Whoever has The Son, he/she has anything!”
Ini memang bukan Natal, dan mungkin tidak penting untuk
mengingat kisah ini. Tapi, kita perlu tahu, jika kita memiliki Sang Putra /
Yesus Kristus, kita punya segalanya.
Dia adalah mimpi
Dia adalah cinta
Dia adalah kekasih
Dia adalah dokter
Dia adalah kekasih
Dia adalah SEGALANYA.
source : ibadah Natal JKI Injil Kerajaan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar